Air PDAM Pontianak Berubah Rasa dan Keruh Saat Kemarau, Herman Hofi: Dampak Intrusi Air Laut - Pangkal | Awal dari Setiap Cerita

Mobile Menu

Top Ads

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

More News

logoblog

Air PDAM Pontianak Berubah Rasa dan Keruh Saat Kemarau, Herman Hofi: Dampak Intrusi Air Laut

Senin, 24 Agustus 2026
 





PANGKAL.id
PONTIANAK — Perubahan rasa serta tingkat kekeruhan air ledeng PDAM Pontianak selama musim kemarau dinilai tidak terlepas dari kondisi geografis Kota Pontianak yang berada di wilayah hilir Sungai Kapuas dan berdekatan dengan kawasan pesisir.


Pengamat Hukum dan Kebijakan Publik, Dr. Herman Hofi, S.H., M.H., menjelaskan bahwa kondisi tersebut perlu dipahami secara mendasar sebagai salah satu dampak fenomena alamiah pada sistem hidrologi sungai yang dipengaruhi pasang surut.


Menurut Herman Hofi, posisi Kota Pontianak yang berada di bagian hilir Sungai Kapuas dan berhadapan dengan kawasan muara membuat sumber air baku PDAM sangat dipengaruhi dinamika arus sungai serta pasang surut air laut.


“Pada musim kemarau, curah hujan di wilayah hulu Sungai Kapuas mengalami penurunan. Kondisi tersebut menyebabkan dorongan arus air tawar dari hulu menuju hilir melemah secara alami,” jelasnya.
Melemahnya tekanan air tawar tersebut, lanjut Herman Hofi, dapat memberikan ruang lebih besar bagi air laut untuk masuk melalui kawasan muara dan bergerak ke bagian sungai yang lebih jauh.


Fenomena tersebut dikenal sebagai intrusi air laut, yang dapat menyebabkan meningkatnya kadar garam serta membawa material sedimen di kawasan yang menjadi sumber air baku.
“Akibatnya, titik pengambilan air baku atau intake pengolahan air minum dapat terpapar peningkatan kadar garam dan material sedimen muara,” ujarnya.


Herman Hofi menambahkan, secara teknis instalasi pengolahan air PDAM pada dasarnya dirancang untuk mengolah air permukaan, termasuk mengurangi kekeruhan dan melakukan proses sterilisasi terhadap bakteri.
Namun, sistem pengolahan air tawar tersebut tidak secara khusus dirancang untuk menghilangkan kandungan garam dalam jumlah tinggi.
Karena itu, ketika fenomena intrusi air laut mencapai kondisi tertentu, perubahan rasa air menjadi lebih asin dapat terjadi.


“Kondisi ini merupakan tantangan alamiah tahunan yang juga dihadapi berbagai kota yang berada di kawasan pesisir dan muara sungai,” katanya.
Meski demikian, masyarakat diharapkan tetap mendapatkan informasi yang jelas mengenai kondisi air baku dan langkah-langkah teknis yang dilakukan untuk mengurangi dampaknya.


Herman Hofi juga berharap PDAM Pontianak bersama Pemerintah Kota Pontianak terus mengoptimalkan titik intake alternatif serta melakukan berbagai rekayasa teknis untuk meminimalkan dampak intrusi air laut selama musim kemarau.


Dengan langkah tersebut, kualitas pelayanan air bersih kepada masyarakat diharapkan tetap dapat dipertahankan meskipun kondisi hidrologis Sungai Kapuas mengalami perubahan selama musim kemarau.


Tim Red